Hotman : Pasal Yang Menjerat Hary Tanoe Tidak Kuat Dan Bisa Dipatahkan.


Macroberita.com – Pasal yang dikenakan oleh Polri untuk menjerat Ketum Perindo Bapak Hary Tanoesodibjo dalam kasus SMS ke Jaksa Yulianto dinilai cenderung lemah dan bisa kami patahkan. Hary Tanoe dijerat dengan menggunakan Pasal 29 UU ITE yang sangat jelas memuat tentang syarat mutlak apabila informasi elektronik yang mengandung ancaman kekerasan atau menakuti yang ditujukan kepada seseorang secara pribadi.
                                                                   
Hotman Paris yang selaku tim kuasa hukum dari HaryTanoesoedibjo menyebutkan, Pasal 29 UU ITE mengharuskan ada ancaman, yang ditujukan secara tegas kepada seseorang. Sebaliknya dalam isi pesan singkat yang dikirim oleh Hary Tanoesoedibjo kepada Jaksa Yulianto tidak memiliki cukup unsur tersebut.

“Misalnya, Si Poltak mengirimkan SMS ke si Rudi yang berisi, apabila Rudi tidak membayar utang, maka rumah Rudi akan dibakar. Inilah contoh ancaman yang dimaksud dalam Pasal 29 UU ITE,”jelas Hotman dalam jumpa pers bersama Macroberita.com, Jumat (23/06/17).

Dia juga menerangkan, isi dari SMS Hary Tanoe yang dikirimkan ke Jaksa Yulianto bersifat umum dan idealis. Bahkan cenderung tidak bersifat ancaman kepada seseorang.

Dia mengatakan, inti dari SMS yang dikirim oleh Hary Tanoe adalah, apabila saya pimpinan negeri ini, maka disitulah saatnya Indonesia akan diubah dan dibersihkan dari hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya.Dia mengungkapkan, isi SMS Hary Tanoe juga menyebutkan, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Menurutnya Hary Tanoe dalam SMS tidak pernah menyebut Jaksa Yulianto sebagai yang salah dan tidak pernah menyebut sebagai yang tidak bersih.

“Kami dan publik menunggu, apakah benar terjadi dugaan penganiayaan hukum bermotif politik oleh lawan-lawan politisi dan oknum pimpinan partai yang kebetulan dekat dengan kekuasaan sekarang ini,”ujarnya.


Megawati : Saya Tegaskan Ayahanda Saya Bukanlah Seorang Pengkhianat Bangsa


Macroberita.com – Ketua Umum PDIP Ibu Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa ayahandanya, Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia bukanlah seorang pengkhianat bangsa.

Hal tersebut diungkapkan oleh Megawati dalam sambutannya di acara Haul Bung Karno ke 47 di Gedung Nusantara IV MPR/DPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/07/2017).
                        
Dalam sambutanya, Ibu Megawati mengatakan ketika memberikan kuliah di Sekolah Staf dan Komando ABRI pada tahun 1993 silam. Pada awalnya peserta hanya terdiam ketika dirinya dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepadanya.

“Lalu saya katakan pada pimpinan kalau tidak ada yang mau bertanya tidak perlu dipaksakan. Tapi ada satu perwira yang mengacungkan tangan,”ujar Mantan Presiden RI ke lima tersebut.

Seorang perwira ABRI itu meminta pendapatnya tentang apakah Soekarno atau biasa dipanggil dengan Bung Karno seorang pengkhianat. Ketika mendengar pernyataan itu, Mengawati mengaku sangat terkejut. Dia mengaku sempat berpikir akan menjawab pertanyaan itu sebagai Ketua Umum PDIP, warga Negara Indonesia atau sebagai anak Bung Karno.

“Lalu saya jawab anak muda sekalian di sini, saya akan mencopot kostum sebagai ketua umum partai, saya katakan secara tegas, berani disumpah, saya Megawati Soekarnoputri bahwa ayah saya bukanlah seorang pengkhianat,”ujarnya


Reaksi Wiranto Mengenai Keinginan Rizieq Shihab Untuk Berdamai


Macroberita.com – Ketua Umum FPI Rizieq Shihab mengajak jajaran Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI atau biasa disebut dengan GNPF-MUI untuk mengadakan pertemuan dengan pemerintah. Dalam pertemuan tersebut akan membahas tentang rekonsiliasi dengan pemerintah perihal kasus hukum yang sedang menjeratnya saat ini.

Namun menurut Menko Polhukam Wiranto, keinginan Rizieq Shihab melakukan rekonsiliasi dengan pemerintah saya rasa tidak tepat. Rekonsiliasi seharusnya hanya bisa dilakukan antara pemerintah dengan badan setara pemerintah.

“Warga Negara dengan warga negaranya itu tidak ada istilah rekonsiliasi, kurang tepat,”kata Wiranto saat ditemui wartawan Macroberita.com di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 21 Juni 2017.

Keinginan ini tidak lepas dari permasalahan hukum yang sedang berjalan saat ini. Hukum memilki celah yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang koordinasi. Tapi, koordinasi dan kesepakatan itu tetap pada jalur hukum bukan rekonsiliasi.

“Namanya pemerintah kan bisa-bisa saja. Tapi pemerintah kan punya sikap,”terang Wiranto.

Sebelumnya pemimpin FPI Rizieq Shihab, melalui rekaman suara usai acara talk show kasus Rizieq di Hotel Balairung, Mataram, Jakarta, Jumat 16 Juni 2017, meminta agar dibentuk forum rekonsiliasi antara GNPF-MUI dengan Pemerintah.

Rizieq Shihab pun meminta kepada para praktisi hukum Yusril Ihza Mahendra memimpin proses yang dimaksud.

Densus Anti Teror Berhasil Mengamankan Terduga Teroris di Banten


Macroberita.com – Satu lagi terduga teroris berhasil diamankan oleh Tim Densus 88 Anti Teror di Jalan Raya Pandeglang Labuan di dekat sub terminal Mengger. Penangkapan dilakukan pada pukul sekitar jam 20.40 WIB dan penangkapan berlangsung di pinggir jalan raya.

Kapolda Banten Listyo Sigit Prabowo saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan oleh Densus 88 atas terduga teroris. Namun ia enggan membeberkan lebih lanjut karena masih dalam proses pengembangan. 

"Benar sudah diamankan di wilayah Pandeglang 1 orang diduga kelompok teroris," kata Listyo saat dikonfirmasi, Pandeglang, Rabu (21/6/2017). 

"Saat ini sedang dikembangkan oleh Densus 88," katanya menegaskan. 

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Pandeglang AKBP Ary Satriyan mengatakan, saat penangkapan oleh Densus, pelaku sedang mengendarai sepeda motor. Penangkapan berjalan cepat dan terduga teroris langsung dibawa ke Mabes Polri. 

"Pelaku (terduga teroris) naik motor 1 orang. Pelaku langsung dibawa ke Jakarta," kata Ary saat dihubungi. 

Ary menjelaskan bahwa ia masih belum dapat memberikan informasi terkait siapa terduga teroris yang ditangkap di Pandeglang. Apalagi, pelaku langsung dibawa ke Jakarta. 

Sebelumnya, pada Rabu (7/6) lalu, Densus 88 juga menangkap 5 orang terduga teroris di wilayah Banten. Terduga atas inisial S di tangkap di daerah Citangkil, Cilegon. Sementara itu, empat orang lainnya di tangkap di wilayah Kota Serang dan Serang dengan inisial H, S, EM, dan A. 


Pelaku Penyerang Polisi Sudah Ditangkap Dan 1 Ditembak.


Macroberita.com – Petualangan dua tersangka penyerangan polisi di Mojokerto dengan bom ikan berakhir sudah. Keduanya berhasil diringkus setelah sempat memburon selama 4 bulan.

Dari dua pelaku, satu orang ditembak mati karena berusaha menyerang anggota Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim saat akan ditangkap.

Kedua DPO yang ditangkap yakni, Hariyanto alias Hari (otak penyerangan), serta Solihin. Pelaku adalah warga Pasrepan, Kabupaten Pasuruan.

"Pengungkapan ini hasil dari pengembangan," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, yang didampingi Wadir Reskrimum AKBP Teguh Y dan Kasubdit Jatanras AKBP Boby Tambunan, Senin (19/6/2017).

Dua pelaku tersebut ditangkap pada Jumat lalu. Polisi sebelumnya sudah memantau pergerakan mereka.

"Ini sudah empat bulan, anggota terus memonitor. Tapi yang bersangkutan tidak keluar dari tempat persembunyiannya," ujarnya.

Ketika keluar dari tempat persembunyiannya di wilayah Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Anggota Jatanras Polda Jatim langsung menyergapnya. Ternyata tak semudah itu, karena tersangka Hari melakukan perlawanan dan menyerang petugas dengan senjata tajam

Polisi langsung mengeluarkan tembakan dan terkena ke tubuh pelaku. Hari pun tewas diterjang peluru polisi. Sedangkan pelaku lainnya, Solihin, ditangkap dan saat ini ditahan di Mapolda Jatim.

"Tersangka Hari ini merupakan otak atau kapten dari jaringan ini. Mereka adalah komplotan begal yang merampas kendaraan roda dua maupun empat (mobil)," ujarnya sambil menambahkan, ada 16 tempat kejadian perkara (TKP) kejahatan jalanan yang dilakukan Hari dan kawan-kawannya.
"Setiap beraksi selalu menggunakan senjata tajam. Bom bondet yang dibawanya itu, digunakan terakhir untuk mencederai dan melarikan diri," jelasnya.

Kasus ini terus dikembangkan Jatanras Polda Jatim. Termasuk untuk mencari jaringan komplotan begal yang dikenal kejam dan meresahkan masyarakat di beberapa daerah seperti Mojokerto.